Total Tayangan Laman

Jumat, 06 Januari 2012

PENCAPAIAN 4 SUKSES PEMBANGUNAN PERTANIAN 2011


Empat Sukses Pembangunan Pertanian adalah : (1) Pencapaian Swasembada dan Swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan Diversifikasi Pangan, (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor serta (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani. Pencapaian 
1. Pencapaian Swasembada dan swasembada berkelanjutan
Padi dan jagung sudah swasembada. Oleh karena itu diprogramkan menjadi swasembada berkelanjutan. Agar swasembada berkelanjutan ini dapat dipertahankan, maka target peningkatan produksinya minimal sama dengan pertumbuhan permintaan dalam negeri.
Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk secara nasional, permintaan bahan baku industri dalam negeri, kebutuhan stok nasional dalam rangka stabilitas harga serta pemenuhan peluang eskpor, maka produksi pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 75,70 juta ton.
Namun dengan melihat perkembangan pangan dunia dan dampak perubahan iklim Presiden menetapkan bahwa pada tahun 2014 Indonesia tidak cukup hanya swasembada berkelanjutan tetapi harus surplus 10 juta ton beras!. Semula sesuai dengan renstra Kementan menuju tahun 2014 ini, produksi padi tahun 2011 ditetapkan 68,8 juta ton (dinaikkan menjadi 70,60 juta ton).
Pencapaian dalam tahun 2011. berdasarkan angka ramalan III BPS, produksi padi diperkirakanan sebesar 65,39 juta ton GKG, mengalamai penurunnan sebanyak 1,08 juta ton (1,63%); Swasembada berkelanjutan untuk produksi jagung pada tahun 2014 ditetapkan 29 juta ton dan pada tahun 2011 sebesar 22 juta ton. Berdasarkan angka ramalan III BPS produksi jagung diperkirakan sebesar 17, 23 juta ton pipilan kering atau menurun sebanyak 1,10 juta ton (5,99%).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai sasaran ini, seperti melaksanakan SLPTT, bantuan benih langsung dsbnya. Tetapi karena dampak iklim, adanya serangan hama penyakit, konversi lahan ke non pertanian, ternyata sasaran swasembada berkelanjutan belum menjadi kenyataan.
Untuk swasembada pada tahun 2014 ditetapkan untuk komoditas kedelai, gula dan daging sapi. Target produksinya pada tahun 2014 minimal harus sama dengan proyeksi permintaan dalam negeri pada tahun 2014 tsb, masing-masing kedelai 2,70 juta ton, gula 4,81 juta ton dan daging sapi 0,55 juta ton.
Untuk tahun 2011 ditetapkan target produksi kedelai 1,560 juta ton. Pencapaian tahun 2011 produksi kedelai sebesar 870,07 ribu ton biji kering, terjadi penurunan sebanyak 36,96 ribu ton (4,08 %).
Untuk produksi gula tahun 2011 ditetapkan 3,449 juta ton, tetapi produksi hanya mencapai 2,1 -2,2 juta ton.
Sedangkan target produksi daging sapi tahun 2011 sebesar 439 ribu ton. Swasembada daging ini sudah sampai 3 kali diundurkan, karena tidak tercapai. Untuk perencanaan yang lebih realistis maka pada tahaun 2011 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama Badan Pusat Statistik mengadakan Sensus ternak. Ternyata melalui Hasil Sensus Ternak 2011 ada optimisme menuju swasembada daging sampai tahun 2014. Sebab ternyata jumlah ternak sapi secara nasional mencapai 15,4 juta ekor, terdiri dari sapi potong 14,8 juta . ekor dan sapi perah 597,100 ekor. Sedangkan jumlah kerbau sebesar 1,3 juta ekor. Yang menggembirakan  jumlah populasi sapi potong betina mencapai 68,15% lebih banyak dari sapi potong jantan (38,85%). Untuk itu peternak perlu diyakinkan agar menghindari pemotongan sapi betina produktif. Dengan kondisi populasi seperti ini sangat mendukung program peningkatan populasi ternak yang diharapkan pemerintah, terutama melalui penerapan program inseminasi buatan terhadap sapi betina.
Untuk meraih swasembada dan swasembada berkelanjutan ini diharapkan ada dukungan utama berupa perluasan lahan seluas 2 juta hektar selama 2012-2014. Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan realisasi cetak sawah baru selama lima tahun terakhir (2006-2010) hanya sekitar 69.102 ha atau bertambah 14 ribu ha pertahun. Angka tersebut jauh di bawah target pencetakan sawah baru seluas 100 ribu ha pertahun. Diperkirakan defisit areal persawahan produktif dari tahun ke tahun semakin membesar. Idealnya . pemerintah perlu melakukan cetak sawah baru 200 ribu ha/tahun, atau minimal 100 ha per tahun.
2. Peningkatan Diversifikasi Pangan
Dalam rangka swasembada pangan, diversifikasi pangan menjadi keharusan. Menurut statistik konsumsi beras perkapita rakyat Indonesia mencapai 139,5 kg/orang/tahun. Ini angka konsumsi tertinggi di Asia. Bahkan mungkin di dunia. Menyadari akan hal ini pemerintah telah bertekad untuk penurunan tingkat konsumsi beras masyarakat sebesar 1,5% pertahun. Melalui program yang terarah ternyata pada tahun 2010 yang lalu target ini dapat diraih. Pemerintah telah bertekad bahwa konsumsi per kapita/th untuk tahun 2011 sebesar 138,24 kg; tahun 2012 sebesar 137,34; tahun 2013 sebesar 136,44 dan tahun 2014 sebesar 135,55 kg.
Peluang ini sebenarnya dapat diraih mengingat selain beras, Indonesia mempunyai banyak sumber karbohidrat mulai dari jagung, sagu, singkong, ubi, talas, gembili, kentang serta umbi-umbian lainnya. Dengan pengolahan sedemikian rupa akan menjadi pangan yang mengundang selera.
Pola makan yang amat tergantung pada beras tidak baik untuk masa depan. Selain tidak baik untuk kesehatan (kurang variasi jenis asupan karbohidrat vitamin, protein, glukosa), beras minded berpotensi membuat ketahanan pangan kita rentan. Bayangkan, jika suatu ketika, produksi padi nasional Indonesia, karena bencana, anomali iklim atau sebab lainnya-tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka meningkatkan diversifikasi pangan menjadi keharusan. Pangan yang beragam lebih menjamin ketahanan pangan.
3. Peningkatan Nilai tambah, daya saing dan Ekspor
Dalam tahun 2011 kinerja ekspor pertanian masih terus meningkat. Perkembangan positif ini terjadi berkat kerjasama dan kerja keras semua pihak, termasuk para petani, aparat dan praktisi bisnis pertanian.
Dalam tahun 2011, Semester I, ekspor pertanian mencapai angka 21,6 miliar dolar USD atau meningkat 115% dari posisi tahun 2009. Perkembangan menggembirakan juga terjadi dengan surplus neraca ekspor-impor komoditas sektor pertanian.
Per semester I, ekspor komoditas pertanian mencapai 21,59 miliar USD, atau meningkat lebih dari 66,3% dari capaian tahun 2010. Sementara itu, neraca ekspor impor untuk sektor pertanian mencapai surplus 11,34 miliar USD. Angka ini meningkat 68% dari surplus tahun lalu yang mencapai 6,74 miliar USD.
Pada enam bulan pertama tahun 2009 nilai ekspor pertanian baru mencapai 9,3 miliar USD. Pada periode yang sama tahun 2010 meningkat 39,24% menjadi 12,98 miliar USD.
Bila pada Semester T2009, surplus perdagangan baru mencapai 4,7 miliar dolar USD, maka per Juni 2011 angkanya sudah melampaui 11,3 miliar USD atau berlipat hampir 150% dari kondisi pertengahan tahun 2009.
4. Peningkatan kesejahteraan petani
Akhirnya sebagai resultante hasil hasil yang dicapai ini tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP), merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan/daya beli petani di Indonesia. Apabila indikatornya di atas 100 berarti terjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteran petani. Memperhatikan data data dari laporan resmi BPS, perkembangan nilai tukar petani dari waktu ke waktu menunjukkan trend positif. Pada bulan Agustus 2011 mencapai 105,11 atau naik 0,23 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan kesejahteraan petani. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Secara tidak langsung, trend NTP yang meningkat, juga menunjukkan bahwa berbagai kebijakan dan program pemberdayaan dan peningkatan kesajahteraan petani mulai membuahkan hasil yang menggembirakan.
Untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani, pemerintah menggulirkan kebijakan dan program pembangunan pertanian. Dalam bentuk kebijakan, antara lain berupa penetapan harga pokok pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah/beras, penetapan harga eceran (HET) pupuk bersubsidi, serta kebijakan pembatasan importasi dan stabilisasi harga.
Berbagai program pembangunan juga telah, sedang dan terus digulirkan untuk membina, melindungi dan memberdayakan petani. Antara lain pemberian bantuan langsung pupuk dan benih unggul, bantuan pembiayaan melalui skema Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), bantuan LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat), KUPS (Kredit Usaha Pembibitan Sapi), KUR (Kredit Usaha Rakyat), penggantian sarana produksi dan biaya pengolahan sawah untuk yang terkena puso (gagal panen), bantuan alat dan mesin pertanian (pompa, hand tractor, terpal), perbaikan sarana jalan dan irigasi tingkat desa, serta beberapa program pemberdayaan petani.
Empat Sukses Pembangunan Pertanian adalah : (1) Pencapaian Swasembada dan Swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan Diversifikasi Pangan, (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor serta (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani. Pencapaian 
1. Pencapaian Swasembada dan swasembada berkelanjutan
Padi dan jagung sudah swasembada. Oleh karena itu diprogramkan menjadi swasembada berkelanjutan. Agar swasembada berkelanjutan ini dapat dipertahankan, maka target peningkatan produksinya minimal sama dengan pertumbuhan permintaan dalam negeri.
Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk secara nasional, permintaan bahan baku industri dalam negeri, kebutuhan stok nasional dalam rangka stabilitas harga serta pemenuhan peluang eskpor, maka produksi pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 75,70 juta ton.
Namun dengan melihat perkembangan pangan dunia dan dampak perubahan iklim Presiden menetapkan bahwa pada tahun 2014 Indonesia tidak cukup hanya swasembada berkelanjutan tetapi harus surplus 10 juta ton beras!. Semula sesuai dengan renstra Kementan menuju tahun 2014 ini, produksi padi tahun 2011 ditetapkan 68,8 juta ton (dinaikkan menjadi 70,60 juta ton).
Pencapaian dalam tahun 2011. berdasarkan angka ramalan III BPS, produksi padi diperkirakanan sebesar 65,39 juta ton GKG, mengalamai penurunnan sebanyak 1,08 juta ton (1,63%); Swasembada berkelanjutan untuk produksi jagung pada tahun 2014 ditetapkan 29 juta ton dan pada tahun 2011 sebesar 22 juta ton. Berdasarkan angka ramalan III BPS produksi jagung diperkirakan sebesar 17, 23 juta ton pipilan kering atau menurun sebanyak 1,10 juta ton (5,99%).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai sasaran ini, seperti melaksanakan SLPTT, bantuan benih langsung dsbnya. Tetapi karena dampak iklim, adanya serangan hama penyakit, konversi lahan ke non pertanian, ternyata sasaran swasembada berkelanjutan belum menjadi kenyataan.
Untuk swasembada pada tahun 2014 ditetapkan untuk komoditas kedelai, gula dan daging sapi. Target produksinya pada tahun 2014 minimal harus sama dengan proyeksi permintaan dalam negeri pada tahun 2014 tsb, masing-masing kedelai 2,70 juta ton, gula 4,81 juta ton dan daging sapi 0,55 juta ton.
Untuk tahun 2011 ditetapkan target produksi kedelai 1,560 juta ton. Pencapaian tahun 2011 produksi kedelai sebesar 870,07 ribu ton biji kering, terjadi penurunan sebanyak 36,96 ribu ton (4,08 %).
Untuk produksi gula tahun 2011 ditetapkan 3,449 juta ton, tetapi produksi hanya mencapai 2,1 -2,2 juta ton.
Sedangkan target produksi daging sapi tahun 2011 sebesar 439 ribu ton. Swasembada daging ini sudah sampai 3 kali diundurkan, karena tidak tercapai. Untuk perencanaan yang lebih realistis maka pada tahaun 2011 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama Badan Pusat Statistik mengadakan Sensus ternak. Ternyata melalui Hasil Sensus Ternak 2011 ada optimisme menuju swasembada daging sampai tahun 2014. Sebab ternyata jumlah ternak sapi secara nasional mencapai 15,4 juta ekor, terdiri dari sapi potong 14,8 juta . ekor dan sapi perah 597,100 ekor. Sedangkan jumlah kerbau sebesar 1,3 juta ekor. Yang menggembirakan  jumlah populasi sapi potong betina mencapai 68,15% lebih banyak dari sapi potong jantan (38,85%). Untuk itu peternak perlu diyakinkan agar menghindari pemotongan sapi betina produktif. Dengan kondisi populasi seperti ini sangat mendukung program peningkatan populasi ternak yang diharapkan pemerintah, terutama melalui penerapan program inseminasi buatan terhadap sapi betina.
Untuk meraih swasembada dan swasembada berkelanjutan ini diharapkan ada dukungan utama berupa perluasan lahan seluas 2 juta hektar selama 2012-2014. Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan realisasi cetak sawah baru selama lima tahun terakhir (2006-2010) hanya sekitar 69.102 ha atau bertambah 14 ribu ha pertahun. Angka tersebut jauh di bawah target pencetakan sawah baru seluas 100 ribu ha pertahun. Diperkirakan defisit areal persawahan produktif dari tahun ke tahun semakin membesar. Idealnya . pemerintah perlu melakukan cetak sawah baru 200 ribu ha/tahun, atau minimal 100 ha per tahun.
2. Peningkatan Diversifikasi Pangan
Dalam rangka swasembada pangan, diversifikasi pangan menjadi keharusan. Menurut statistik konsumsi beras perkapita rakyat Indonesia mencapai 139,5 kg/orang/tahun. Ini angka konsumsi tertinggi di Asia. Bahkan mungkin di dunia. Menyadari akan hal ini pemerintah telah bertekad untuk penurunan tingkat konsumsi beras masyarakat sebesar 1,5% pertahun. Melalui program yang terarah ternyata pada tahun 2010 yang lalu target ini dapat diraih. Pemerintah telah bertekad bahwa konsumsi per kapita/th untuk tahun 2011 sebesar 138,24 kg; tahun 2012 sebesar 137,34; tahun 2013 sebesar 136,44 dan tahun 2014 sebesar 135,55 kg.
Peluang ini sebenarnya dapat diraih mengingat selain beras, Indonesia mempunyai banyak sumber karbohidrat mulai dari jagung, sagu, singkong, ubi, talas, gembili, kentang serta umbi-umbian lainnya. Dengan pengolahan sedemikian rupa akan menjadi pangan yang mengundang selera.
Pola makan yang amat tergantung pada beras tidak baik untuk masa depan. Selain tidak baik untuk kesehatan (kurang variasi jenis asupan karbohidrat vitamin, protein, glukosa), beras minded berpotensi membuat ketahanan pangan kita rentan. Bayangkan, jika suatu ketika, produksi padi nasional Indonesia, karena bencana, anomali iklim atau sebab lainnya-tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka meningkatkan diversifikasi pangan menjadi keharusan. Pangan yang beragam lebih menjamin ketahanan pangan.
3. Peningkatan Nilai tambah, daya saing dan Ekspor
Dalam tahun 2011 kinerja ekspor pertanian masih terus meningkat. Perkembangan positif ini terjadi berkat kerjasama dan kerja keras semua pihak, termasuk para petani, aparat dan praktisi bisnis pertanian.
Dalam tahun 2011, Semester I, ekspor pertanian mencapai angka 21,6 miliar dolar USD atau meningkat 115% dari posisi tahun 2009. Perkembangan menggembirakan juga terjadi dengan surplus neraca ekspor-impor komoditas sektor pertanian.
Per semester I, ekspor komoditas pertanian mencapai 21,59 miliar USD, atau meningkat lebih dari 66,3% dari capaian tahun 2010. Sementara itu, neraca ekspor impor untuk sektor pertanian mencapai surplus 11,34 miliar USD. Angka ini meningkat 68% dari surplus tahun lalu yang mencapai 6,74 miliar USD.
Pada enam bulan pertama tahun 2009 nilai ekspor pertanian baru mencapai 9,3 miliar USD. Pada periode yang sama tahun 2010 meningkat 39,24% menjadi 12,98 miliar USD.
Bila pada Semester T2009, surplus perdagangan baru mencapai 4,7 miliar dolar USD, maka per Juni 2011 angkanya sudah melampaui 11,3 miliar USD atau berlipat hampir 150% dari kondisi pertengahan tahun 2009.
4. Peningkatan kesejahteraan petani
Akhirnya sebagai resultante hasil hasil yang dicapai ini tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP), merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan/daya beli petani di Indonesia. Apabila indikatornya di atas 100 berarti terjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteran petani. Memperhatikan data data dari laporan resmi BPS, perkembangan nilai tukar petani dari waktu ke waktu menunjukkan trend positif. Pada bulan Agustus 2011 mencapai 105,11 atau naik 0,23 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan kesejahteraan petani. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Secara tidak langsung, trend NTP yang meningkat, juga menunjukkan bahwa berbagai kebijakan dan program pemberdayaan dan peningkatan kesajahteraan petani mulai membuahkan hasil yang menggembirakan.
Untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani, pemerintah menggulirkan kebijakan dan program pembangunan pertanian. Dalam bentuk kebijakan, antara lain berupa penetapan harga pokok pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah/beras, penetapan harga eceran (HET) pupuk bersubsidi, serta kebijakan pembatasan importasi dan stabilisasi harga.
Berbagai program pembangunan juga telah, sedang dan terus digulirkan untuk membina, melindungi dan memberdayakan petani. Antara lain pemberian bantuan langsung pupuk dan benih unggul, bantuan pembiayaan melalui skema Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), bantuan LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat), KUPS (Kredit Usaha Pembibitan Sapi), KUR (Kredit Usaha Rakyat), penggantian sarana produksi dan biaya pengolahan sawah untuk yang terkena puso (gagal panen), bantuan alat dan mesin pertanian (pompa, hand tractor, terpal), perbaikan sarana jalan dan irigasi tingkat desa, serta beberapa program pemberdayaan petani.

Kamis, 21 Juli 2011

BUPATI RESMIKAN GEDUNG DESA MEDANKARYA


Bupati Karawang, H. Ade Swara meresmikan penggunaan Kantor Desa Medankarya, Kecamatan Tirtajaya. Peresmian gedung yang merupakan salah satu prototype kantor desa tersebut ditandai dengan penandatangan prasasti dan pengguntingan pita oleh Bupati Ade Swara, Kamis (14/7).
Bupati Ade Swara dalam kesempatan tersebut mengatakan, bahwa dengan program pembangunan kantor desa prototype ini, maka ke depan seluruh kantor desa yang ada di Kab. Karawang akan memiliki gedung kantor yang serupa dan seragam. “Akan tetapi, pelaksanaannya tentu akan disesuaikan dengan kemampuan dan anggaran yang ada,” ujarnya.
Lebih lanjut Bupati mengatakan, APBD Kab. Karawang saat ini mencapai Rp.1,7 trilyun dan belanja mencapai Rp. 2 trilyun.  Jumlah tersebut tentunya tidak mencukupi, terlebih masih terdapat permasalahan lain yang harus diselesaikan, seperti jalan maupun pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan.
Bupati Ade Swara juga menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah turut berpartisipasi hingga terselesaikannya pembangunan gedung Kantor Desa Medankarya. “Untuk itu, dengan diawali ucapan Bismillahirahmanirrahim, Gedung Kantor Desa Medankarya Kecamatan Tirtajaya saya resmikan penggunaanya,” imbuhnya.
Sementara itu, berkaitan dengan penyelenggaraan Peringatan Isra Miraj yang dipadukan dalam kegiatan tersebut, Bupati mengingatkan bahwa kegiatan peringatan ini hendaknya tidak sebatas kegiatan seremonial saja. “Akan tetapi kegiatan ini harus dijadikan sebagai momentum untuk mengkaji tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Islam dan mengimplementasikannya dalam keseharian kita,” tambahnya.
Di sisi lain,  Kepala Desa Medankarya, Nosim Umbara menjelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan kantor desa dimulai setelah pencairan termin pertama tanggal 8 Juli 2010 untuk pekerjaan selama tiga bulan dua puluh hari. Termin kedua pencairan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2010 untuk capaian pembangunan 60 persen untuk pekerjaan selama tiga bulan dua puluh hari. Sedangkan termin ketiga pencairan dilakukan pada tanggal 17 Januari 2011 dengan lama pekerjaan 1 tahun lima hari.

Selasa, 05 Juli 2011

PERCEPATAN SLPTT KUNCI SUKSES RAIH SWASEMBADA PANGAN

LLP Pada SLPTT
Kementerian Pertanian mentargetkan bisa swasembada padi, jagung dan kedelai secara berkelanjutan. Untuk itu pada tahun 2011, produksi padi diharapkan bisa mencapai 70,6 juta ton, jagung 22 juta ton dan kedelai 1,56 juta ton.
Faktor kunci keberhasilan pencapaian produksi swasembada pangan berkelanjutan itu adalah suksesnya percepatan pelaksanaan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL PTT). "Faktor kunci lainnya, yakni jaminan ketersediaan anggaran, jaminan ketersediaan dan penyaluran benih serta pupuk, serta peran aktif gubernur, bupati, walikota, tokoh masyarakat dan tokoh formal dan informal," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro pada Temu Teknis Sinkronisasi Program Pembangunan Pertanian Pusat dan Daerah di Gedung Putri Karang Melenu, Tenggarong, Kukar, Kalimantan Timur.
Anggoro memaparkan Kementan sudah menetapkan sasaran percepatan SL- PTT. Pada tahun 2011, sasaran SL- PTT sawah padi non hibrida seluas 2,2 juta ha (31 propinsi), 228 ribu ha padi hibrida (21 propinsi), 350 ribu ha padi lahan kering (29 propinsi), 206.730 ha jagung hibrida (25 propinsi) dan 250 ribu ha kedelai (16 propinsi).
Upaya percepatan pencapaian program pangan 2011 lanjut Udhoro Kasih Anggoro yakni menggeser waktu tanam SL PTT bulan Maret-April 2011 untuk menciptakan puncak panen Juli 2011; penyaluran benih Cadangan Benih Nasional periode Januari - Maret 2011, percepatan pelaksanaan BLBU dan BLP melalui Perpres No. 14 Tahun 2011. Rapat koordinasi tingkat Menko Perekonomian, Pusat dan Daerah, BUMN, Pelaksana, dan Stakeholder.

Minggu, 23 Januari 2011

PELUANG AGRIBISNIS DI PERDESAAN TAHUN 2011

Kementerian Pertanian menawarkan cara baru untuk menarik investor dan petani agar mau terlibat dalam pengembangan industri agribisnis di perdesaan. Sebuah harapan di tahun 2011?
 Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Dirjen P2HP) Prof. Zaenal Bachruddin mengatakan cara baru yang ditawarkan Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut adalah sistem two in one, yakni insentif regulasi dan insentif teknologi dengan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Zaenal menyebut cara baru menarik investasi industri agribisnis di pedesaan pola two in one ini sebagai harapan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing pertanian Indonesia di tahun 2011.
Yang ia maksud sebagai dua insentif dalam pola ini, pertama adalah insentif teknologi dan kedua insentif modal kerja. Kedua insentif ini dipaketkan jadi satu. Hanya yang menjadi tugas Kementan adalah mengadakan insentif teknologinya. "Yang akan kita angkat adalah insentif teknologinya, termasuk pendampingan dari perguruan tinggi, pembiayaannya diambil dari dana kita (APBN-red) untuk pengadaan alat dan mesinnya," tutur Zaenal Bachruddin.
Sementara itu, untuk modal kerja industri agribisnis di pedesaan Zaenal menginginkan bisa diperoleh dari lembaga-lembaga yang bcrkewenangan meminjamkan dana, baik kredit program yang dibuat Kementan seperti Kredit Ketahanan Pangan dan Encrgi (KKP-E) maupun Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS), maupun pinjaman modal dari
lembaga penjamin dana bergulir di Kementerian Koperasi. "Ini harapan di tahun 2011," tutur Dirjen P2HP kepada Sinar Tani.
Untuk insentif teknologi itu di Ditjen P2HP telah disediakan dana APBN 2011. "Sudah ada yang merespon, ada Rp 80 milyar yang sudah kita salurkan," tambahnya.
Petani yang bisa mendapatkan dana ini adalah petani yang sudah memiliki kelembagaan dan berbadan hukum, bisa gabungan kelompok tani (gapoktan) atau koperasi. Harapannya, insentif teknologi yang diterima gapoktan atau koperasi bisa menjadi saham untuk bermitra dengan investor. "Bersama investor sebagai avalis (penjamin), gapoktan itu kami harapkan bisa mendapatkan pinjaman modal dari lembaga pembiyaan," jelasya.
Melalui sistem two in one ini di tahun 2011, Ditjen P2HP akan banyak mengutuhkan pengembangan Unit Pengolahan Hasil (UPH) bidang petcrnakan, tanaman pangan, perkebunan dan lainnya
Pasar Agribisnis Modern
Bekcrjasama dengan J1CA, Ditjen P2HP tengah menyusun studi kelayakan untuk pengembangan Terminal Agribisnis dan Sub Terminal Agribisnis (STA). Yang sudah siap untuk dilakukan studi kelayakannya lanjut Zaenal Bachrudin adalah TerminalAgribisnis di Lampung. Pengembangan STA ini dilakukan agar ada nilai tambah buat petani meskipun dia menjual produk segar. "Yang ideal adalah kalau STA ini sudah berjalan sebagai tempat transaksi para petani," tambahnya. Yang akan dikembangkan antara lain adalah sistem transaksinya yang berkeadilan, saat ini masih yang sangat tradisional. Misalnya dengan hanya melempar benda. "Ini kan tidak memberikan transaksi yang mcmang didasarkan pada harga dan mutu," tambahnya.
STA di Lampung menjadi prioritas karena Lampung sangat strategis menjadi penghubung Sumetara dan Jawa. Selain itu, ada tiga STA yang akan juga dikembangkan yakni STA di Simalungun Sumut, di Malang Jawa Timur dan Malino Sulsel. "STA-STA itu kita kaji untuk kembangkan lebih baik," tuturnya.
Soal produk yang ada di STA, lanjut Zaenal saat ini sudah ada kerjasama dengan Singapura, sehingga produknya bisa diekspor ke Singapura. "Tidak menu tup kemungkinan produk segar ini bisa kita ekspor ke negara yang tertarik pada buah tropik. Jepang sangat berharap sekali bisa menikmati mangga kita," tuturnya lagi.

sumber : dispertajabar

Senin, 06 Desember 2010

LAPORAN PELAKSANAAN SARESEHAN DESEMBER 2010

I. PENDAHULUAN


Latar Belakang

Kelembagaan tani wilayah Kecamatan Tirtajaya keberadaannya belum menunjukan gambaran yang memuaskan boleh dikatakan diam ditempat. Oleh karena itu, melalui penyelenggaraan mimber KTNA Tingkat Kecamatan menggugah dan menggiatkan kembali kesadaran lembaga tani yang ada ditingkat desa yaitu Kelompok Tani, Gapoktan, dan KTNA Desa dengan mitra kerja penyuluhan di lapangan melalui kunjungan lapangan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

Melalui porum mimbar sarasehan ini lembaga tani ditingkat desa maupun tingkat kecamatan dengan segala program dari Pemerintah sehingga terjadi keterpaduan antara lembaga tani dan program pemangku kebijakan dapat berjalan.

Terlaksana program kegiatan lembaga tani dilapangan dengan baik perlu adanya pengawasan/pembinaan yang dilakukan oleh petugas lapangan, BP3K dan Dinas Intansi yang terkait agar lembaga tani mampu dan mandiri.



Maksud dan Tujuan

- Melaksanakan koordinasi dan informasi secara periodik sesama Lembaga Tani ditingkat Desa dan Kecamatan.

- Mendata kembali kepengurusan baru secara aktif dan berkelanjutan di masing-masing Desa.

- Dapat dirasakan lembaga tani oleh anggotanya di masing-masing kelompok tani

- Mendukung/membantu dalam program empat sukses pembangunan pertanian.



Waktu dan Tempat

Waktu pelaksanaan kegiatan mimbar sarasehan kontak tani Tingkat Kecamatan pada 01 Desember 2010 bertempat di Aula Kantor BP3K Kecamatan Tirtajaya, daftar hadir terlampir.




II. PELAKSANAAN MIMBAR SARASEHAN


Panitia Penyelenggara

- Ketua : Dana Setiawan, AMd

- Sekretaris : Dias Sunandar, AMd

- Anggota : Encum Nurhidayat

- Arip Kurnia

Idi Junaidi, SP



Nara Sumber

1. H. Endang Anggota KTNA Kecamatan Tirtajaya

2. H. Dullah Anggota KTNA Kecamatan Tirtajaya



Peserta

Kelompok Tani, Gapoktan Sewilayah Kecamatan Tirtajaya.



Materi

a. Empat Sukses Pembangunan Pertanian

b. Sosilisasi tentang BP4K dan BP4K

c. Program Kerja KTNA Tingkat Kecamatan

d. Program LAKU dengan KTNA

e. Pengembangan Kelembagaan Kelompok Tani



Sumber Dana

Biaya yang digunakan dari APBD TK II Kabupaten Karawang melalui Pengguna Anggaran Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2010.



Pelaksanaan Sarasehan

Kegiatan pelaksanaan sarasehan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 1 Desember 2010.


III. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Rumusan Sarasehan :

1. Mengaktifkan kembali kelembagaan mulai dari kepengurusan tertib administrasi untuk kelancaran lembaga tani di masing-masing Desa.

2. Program kerja kegiatan lembaga tani dibuat setiap musim tanam di masing-masing kelompok dalam wilayah Desa Sekecamatan Tirtajaya.

3. Melaksanakan koordinasi dan informasi secara priodik

4. Mendukung dan membantu kebijakan program Pembangunan Pertanian.

5. Sarana dan Prasarana Kantor BP3K perlu dilengkapi dengan melaksanakan percontohan di lahan BP3K yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani dan Gapoktan Sewilayah Tirtajaya.

6. Untuk merubah kegiatan petani dari Monokultur menjadi Polikultur.

7. Melaksanakan kegiatan JALINAN TALI KASIH dengan cara perlombaan antar kelompok yang hadiahnya dari iuran kelompok tetapi sistem arisan setiap musim sebesar Rp. 100.000,- perkelompok.



IV. PENUTUP

Acara Sarasehan ini kami Laksanakan atas dasar Perlunya Sosialisasi dan Koordinasi anatar Kelompok Tani dan Gapoktan, KTNA sewilayah Kecamatan Tirtajaya terhadap perkembangan Informasi Teknologi maupun informasi lainnya dalam bidang Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

Ucapan Terimakasih kepada seluruh pihak yang telah turut serta membantu dalam mensukseskan acara sarasehan ini.

Demikian Laporan Pelaksanaan Mimbar Sarasehan Kontak Tani Sewilayah Kecamatan Tirtajaya untuk dapat digunakan bagi yang berkepentingan.





Tirtajaya, 1 Desember 2010

Kepala BP3K

Kecamatan Tirtajaya





DANA SETIAWAN, AMd.

NIP. 19540825 197803 1 005

TERPOPULER

SITUS RESMI FK-THL KARAWANG

BLOG TAUTAN