Total Tayangan Laman

Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

PENCAPAIAN 4 SUKSES PEMBANGUNAN PERTANIAN 2011


Empat Sukses Pembangunan Pertanian adalah : (1) Pencapaian Swasembada dan Swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan Diversifikasi Pangan, (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor serta (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani. Pencapaian 
1. Pencapaian Swasembada dan swasembada berkelanjutan
Padi dan jagung sudah swasembada. Oleh karena itu diprogramkan menjadi swasembada berkelanjutan. Agar swasembada berkelanjutan ini dapat dipertahankan, maka target peningkatan produksinya minimal sama dengan pertumbuhan permintaan dalam negeri.
Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk secara nasional, permintaan bahan baku industri dalam negeri, kebutuhan stok nasional dalam rangka stabilitas harga serta pemenuhan peluang eskpor, maka produksi pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 75,70 juta ton.
Namun dengan melihat perkembangan pangan dunia dan dampak perubahan iklim Presiden menetapkan bahwa pada tahun 2014 Indonesia tidak cukup hanya swasembada berkelanjutan tetapi harus surplus 10 juta ton beras!. Semula sesuai dengan renstra Kementan menuju tahun 2014 ini, produksi padi tahun 2011 ditetapkan 68,8 juta ton (dinaikkan menjadi 70,60 juta ton).
Pencapaian dalam tahun 2011. berdasarkan angka ramalan III BPS, produksi padi diperkirakanan sebesar 65,39 juta ton GKG, mengalamai penurunnan sebanyak 1,08 juta ton (1,63%); Swasembada berkelanjutan untuk produksi jagung pada tahun 2014 ditetapkan 29 juta ton dan pada tahun 2011 sebesar 22 juta ton. Berdasarkan angka ramalan III BPS produksi jagung diperkirakan sebesar 17, 23 juta ton pipilan kering atau menurun sebanyak 1,10 juta ton (5,99%).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai sasaran ini, seperti melaksanakan SLPTT, bantuan benih langsung dsbnya. Tetapi karena dampak iklim, adanya serangan hama penyakit, konversi lahan ke non pertanian, ternyata sasaran swasembada berkelanjutan belum menjadi kenyataan.
Untuk swasembada pada tahun 2014 ditetapkan untuk komoditas kedelai, gula dan daging sapi. Target produksinya pada tahun 2014 minimal harus sama dengan proyeksi permintaan dalam negeri pada tahun 2014 tsb, masing-masing kedelai 2,70 juta ton, gula 4,81 juta ton dan daging sapi 0,55 juta ton.
Untuk tahun 2011 ditetapkan target produksi kedelai 1,560 juta ton. Pencapaian tahun 2011 produksi kedelai sebesar 870,07 ribu ton biji kering, terjadi penurunan sebanyak 36,96 ribu ton (4,08 %).
Untuk produksi gula tahun 2011 ditetapkan 3,449 juta ton, tetapi produksi hanya mencapai 2,1 -2,2 juta ton.
Sedangkan target produksi daging sapi tahun 2011 sebesar 439 ribu ton. Swasembada daging ini sudah sampai 3 kali diundurkan, karena tidak tercapai. Untuk perencanaan yang lebih realistis maka pada tahaun 2011 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama Badan Pusat Statistik mengadakan Sensus ternak. Ternyata melalui Hasil Sensus Ternak 2011 ada optimisme menuju swasembada daging sampai tahun 2014. Sebab ternyata jumlah ternak sapi secara nasional mencapai 15,4 juta ekor, terdiri dari sapi potong 14,8 juta . ekor dan sapi perah 597,100 ekor. Sedangkan jumlah kerbau sebesar 1,3 juta ekor. Yang menggembirakan  jumlah populasi sapi potong betina mencapai 68,15% lebih banyak dari sapi potong jantan (38,85%). Untuk itu peternak perlu diyakinkan agar menghindari pemotongan sapi betina produktif. Dengan kondisi populasi seperti ini sangat mendukung program peningkatan populasi ternak yang diharapkan pemerintah, terutama melalui penerapan program inseminasi buatan terhadap sapi betina.
Untuk meraih swasembada dan swasembada berkelanjutan ini diharapkan ada dukungan utama berupa perluasan lahan seluas 2 juta hektar selama 2012-2014. Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan realisasi cetak sawah baru selama lima tahun terakhir (2006-2010) hanya sekitar 69.102 ha atau bertambah 14 ribu ha pertahun. Angka tersebut jauh di bawah target pencetakan sawah baru seluas 100 ribu ha pertahun. Diperkirakan defisit areal persawahan produktif dari tahun ke tahun semakin membesar. Idealnya . pemerintah perlu melakukan cetak sawah baru 200 ribu ha/tahun, atau minimal 100 ha per tahun.
2. Peningkatan Diversifikasi Pangan
Dalam rangka swasembada pangan, diversifikasi pangan menjadi keharusan. Menurut statistik konsumsi beras perkapita rakyat Indonesia mencapai 139,5 kg/orang/tahun. Ini angka konsumsi tertinggi di Asia. Bahkan mungkin di dunia. Menyadari akan hal ini pemerintah telah bertekad untuk penurunan tingkat konsumsi beras masyarakat sebesar 1,5% pertahun. Melalui program yang terarah ternyata pada tahun 2010 yang lalu target ini dapat diraih. Pemerintah telah bertekad bahwa konsumsi per kapita/th untuk tahun 2011 sebesar 138,24 kg; tahun 2012 sebesar 137,34; tahun 2013 sebesar 136,44 dan tahun 2014 sebesar 135,55 kg.
Peluang ini sebenarnya dapat diraih mengingat selain beras, Indonesia mempunyai banyak sumber karbohidrat mulai dari jagung, sagu, singkong, ubi, talas, gembili, kentang serta umbi-umbian lainnya. Dengan pengolahan sedemikian rupa akan menjadi pangan yang mengundang selera.
Pola makan yang amat tergantung pada beras tidak baik untuk masa depan. Selain tidak baik untuk kesehatan (kurang variasi jenis asupan karbohidrat vitamin, protein, glukosa), beras minded berpotensi membuat ketahanan pangan kita rentan. Bayangkan, jika suatu ketika, produksi padi nasional Indonesia, karena bencana, anomali iklim atau sebab lainnya-tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka meningkatkan diversifikasi pangan menjadi keharusan. Pangan yang beragam lebih menjamin ketahanan pangan.
3. Peningkatan Nilai tambah, daya saing dan Ekspor
Dalam tahun 2011 kinerja ekspor pertanian masih terus meningkat. Perkembangan positif ini terjadi berkat kerjasama dan kerja keras semua pihak, termasuk para petani, aparat dan praktisi bisnis pertanian.
Dalam tahun 2011, Semester I, ekspor pertanian mencapai angka 21,6 miliar dolar USD atau meningkat 115% dari posisi tahun 2009. Perkembangan menggembirakan juga terjadi dengan surplus neraca ekspor-impor komoditas sektor pertanian.
Per semester I, ekspor komoditas pertanian mencapai 21,59 miliar USD, atau meningkat lebih dari 66,3% dari capaian tahun 2010. Sementara itu, neraca ekspor impor untuk sektor pertanian mencapai surplus 11,34 miliar USD. Angka ini meningkat 68% dari surplus tahun lalu yang mencapai 6,74 miliar USD.
Pada enam bulan pertama tahun 2009 nilai ekspor pertanian baru mencapai 9,3 miliar USD. Pada periode yang sama tahun 2010 meningkat 39,24% menjadi 12,98 miliar USD.
Bila pada Semester T2009, surplus perdagangan baru mencapai 4,7 miliar dolar USD, maka per Juni 2011 angkanya sudah melampaui 11,3 miliar USD atau berlipat hampir 150% dari kondisi pertengahan tahun 2009.
4. Peningkatan kesejahteraan petani
Akhirnya sebagai resultante hasil hasil yang dicapai ini tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP), merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan/daya beli petani di Indonesia. Apabila indikatornya di atas 100 berarti terjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteran petani. Memperhatikan data data dari laporan resmi BPS, perkembangan nilai tukar petani dari waktu ke waktu menunjukkan trend positif. Pada bulan Agustus 2011 mencapai 105,11 atau naik 0,23 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan kesejahteraan petani. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Secara tidak langsung, trend NTP yang meningkat, juga menunjukkan bahwa berbagai kebijakan dan program pemberdayaan dan peningkatan kesajahteraan petani mulai membuahkan hasil yang menggembirakan.
Untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani, pemerintah menggulirkan kebijakan dan program pembangunan pertanian. Dalam bentuk kebijakan, antara lain berupa penetapan harga pokok pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah/beras, penetapan harga eceran (HET) pupuk bersubsidi, serta kebijakan pembatasan importasi dan stabilisasi harga.
Berbagai program pembangunan juga telah, sedang dan terus digulirkan untuk membina, melindungi dan memberdayakan petani. Antara lain pemberian bantuan langsung pupuk dan benih unggul, bantuan pembiayaan melalui skema Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), bantuan LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat), KUPS (Kredit Usaha Pembibitan Sapi), KUR (Kredit Usaha Rakyat), penggantian sarana produksi dan biaya pengolahan sawah untuk yang terkena puso (gagal panen), bantuan alat dan mesin pertanian (pompa, hand tractor, terpal), perbaikan sarana jalan dan irigasi tingkat desa, serta beberapa program pemberdayaan petani.
Empat Sukses Pembangunan Pertanian adalah : (1) Pencapaian Swasembada dan Swasembada berkelanjutan, (2) Peningkatan Diversifikasi Pangan, (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor serta (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani. Pencapaian 
1. Pencapaian Swasembada dan swasembada berkelanjutan
Padi dan jagung sudah swasembada. Oleh karena itu diprogramkan menjadi swasembada berkelanjutan. Agar swasembada berkelanjutan ini dapat dipertahankan, maka target peningkatan produksinya minimal sama dengan pertumbuhan permintaan dalam negeri.
Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk secara nasional, permintaan bahan baku industri dalam negeri, kebutuhan stok nasional dalam rangka stabilitas harga serta pemenuhan peluang eskpor, maka produksi pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 75,70 juta ton.
Namun dengan melihat perkembangan pangan dunia dan dampak perubahan iklim Presiden menetapkan bahwa pada tahun 2014 Indonesia tidak cukup hanya swasembada berkelanjutan tetapi harus surplus 10 juta ton beras!. Semula sesuai dengan renstra Kementan menuju tahun 2014 ini, produksi padi tahun 2011 ditetapkan 68,8 juta ton (dinaikkan menjadi 70,60 juta ton).
Pencapaian dalam tahun 2011. berdasarkan angka ramalan III BPS, produksi padi diperkirakanan sebesar 65,39 juta ton GKG, mengalamai penurunnan sebanyak 1,08 juta ton (1,63%); Swasembada berkelanjutan untuk produksi jagung pada tahun 2014 ditetapkan 29 juta ton dan pada tahun 2011 sebesar 22 juta ton. Berdasarkan angka ramalan III BPS produksi jagung diperkirakan sebesar 17, 23 juta ton pipilan kering atau menurun sebanyak 1,10 juta ton (5,99%).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai sasaran ini, seperti melaksanakan SLPTT, bantuan benih langsung dsbnya. Tetapi karena dampak iklim, adanya serangan hama penyakit, konversi lahan ke non pertanian, ternyata sasaran swasembada berkelanjutan belum menjadi kenyataan.
Untuk swasembada pada tahun 2014 ditetapkan untuk komoditas kedelai, gula dan daging sapi. Target produksinya pada tahun 2014 minimal harus sama dengan proyeksi permintaan dalam negeri pada tahun 2014 tsb, masing-masing kedelai 2,70 juta ton, gula 4,81 juta ton dan daging sapi 0,55 juta ton.
Untuk tahun 2011 ditetapkan target produksi kedelai 1,560 juta ton. Pencapaian tahun 2011 produksi kedelai sebesar 870,07 ribu ton biji kering, terjadi penurunan sebanyak 36,96 ribu ton (4,08 %).
Untuk produksi gula tahun 2011 ditetapkan 3,449 juta ton, tetapi produksi hanya mencapai 2,1 -2,2 juta ton.
Sedangkan target produksi daging sapi tahun 2011 sebesar 439 ribu ton. Swasembada daging ini sudah sampai 3 kali diundurkan, karena tidak tercapai. Untuk perencanaan yang lebih realistis maka pada tahaun 2011 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama Badan Pusat Statistik mengadakan Sensus ternak. Ternyata melalui Hasil Sensus Ternak 2011 ada optimisme menuju swasembada daging sampai tahun 2014. Sebab ternyata jumlah ternak sapi secara nasional mencapai 15,4 juta ekor, terdiri dari sapi potong 14,8 juta . ekor dan sapi perah 597,100 ekor. Sedangkan jumlah kerbau sebesar 1,3 juta ekor. Yang menggembirakan  jumlah populasi sapi potong betina mencapai 68,15% lebih banyak dari sapi potong jantan (38,85%). Untuk itu peternak perlu diyakinkan agar menghindari pemotongan sapi betina produktif. Dengan kondisi populasi seperti ini sangat mendukung program peningkatan populasi ternak yang diharapkan pemerintah, terutama melalui penerapan program inseminasi buatan terhadap sapi betina.
Untuk meraih swasembada dan swasembada berkelanjutan ini diharapkan ada dukungan utama berupa perluasan lahan seluas 2 juta hektar selama 2012-2014. Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan realisasi cetak sawah baru selama lima tahun terakhir (2006-2010) hanya sekitar 69.102 ha atau bertambah 14 ribu ha pertahun. Angka tersebut jauh di bawah target pencetakan sawah baru seluas 100 ribu ha pertahun. Diperkirakan defisit areal persawahan produktif dari tahun ke tahun semakin membesar. Idealnya . pemerintah perlu melakukan cetak sawah baru 200 ribu ha/tahun, atau minimal 100 ha per tahun.
2. Peningkatan Diversifikasi Pangan
Dalam rangka swasembada pangan, diversifikasi pangan menjadi keharusan. Menurut statistik konsumsi beras perkapita rakyat Indonesia mencapai 139,5 kg/orang/tahun. Ini angka konsumsi tertinggi di Asia. Bahkan mungkin di dunia. Menyadari akan hal ini pemerintah telah bertekad untuk penurunan tingkat konsumsi beras masyarakat sebesar 1,5% pertahun. Melalui program yang terarah ternyata pada tahun 2010 yang lalu target ini dapat diraih. Pemerintah telah bertekad bahwa konsumsi per kapita/th untuk tahun 2011 sebesar 138,24 kg; tahun 2012 sebesar 137,34; tahun 2013 sebesar 136,44 dan tahun 2014 sebesar 135,55 kg.
Peluang ini sebenarnya dapat diraih mengingat selain beras, Indonesia mempunyai banyak sumber karbohidrat mulai dari jagung, sagu, singkong, ubi, talas, gembili, kentang serta umbi-umbian lainnya. Dengan pengolahan sedemikian rupa akan menjadi pangan yang mengundang selera.
Pola makan yang amat tergantung pada beras tidak baik untuk masa depan. Selain tidak baik untuk kesehatan (kurang variasi jenis asupan karbohidrat vitamin, protein, glukosa), beras minded berpotensi membuat ketahanan pangan kita rentan. Bayangkan, jika suatu ketika, produksi padi nasional Indonesia, karena bencana, anomali iklim atau sebab lainnya-tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka meningkatkan diversifikasi pangan menjadi keharusan. Pangan yang beragam lebih menjamin ketahanan pangan.
3. Peningkatan Nilai tambah, daya saing dan Ekspor
Dalam tahun 2011 kinerja ekspor pertanian masih terus meningkat. Perkembangan positif ini terjadi berkat kerjasama dan kerja keras semua pihak, termasuk para petani, aparat dan praktisi bisnis pertanian.
Dalam tahun 2011, Semester I, ekspor pertanian mencapai angka 21,6 miliar dolar USD atau meningkat 115% dari posisi tahun 2009. Perkembangan menggembirakan juga terjadi dengan surplus neraca ekspor-impor komoditas sektor pertanian.
Per semester I, ekspor komoditas pertanian mencapai 21,59 miliar USD, atau meningkat lebih dari 66,3% dari capaian tahun 2010. Sementara itu, neraca ekspor impor untuk sektor pertanian mencapai surplus 11,34 miliar USD. Angka ini meningkat 68% dari surplus tahun lalu yang mencapai 6,74 miliar USD.
Pada enam bulan pertama tahun 2009 nilai ekspor pertanian baru mencapai 9,3 miliar USD. Pada periode yang sama tahun 2010 meningkat 39,24% menjadi 12,98 miliar USD.
Bila pada Semester T2009, surplus perdagangan baru mencapai 4,7 miliar dolar USD, maka per Juni 2011 angkanya sudah melampaui 11,3 miliar USD atau berlipat hampir 150% dari kondisi pertengahan tahun 2009.
4. Peningkatan kesejahteraan petani
Akhirnya sebagai resultante hasil hasil yang dicapai ini tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP), merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan/daya beli petani di Indonesia. Apabila indikatornya di atas 100 berarti terjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteran petani. Memperhatikan data data dari laporan resmi BPS, perkembangan nilai tukar petani dari waktu ke waktu menunjukkan trend positif. Pada bulan Agustus 2011 mencapai 105,11 atau naik 0,23 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan kesejahteraan petani. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Secara tidak langsung, trend NTP yang meningkat, juga menunjukkan bahwa berbagai kebijakan dan program pemberdayaan dan peningkatan kesajahteraan petani mulai membuahkan hasil yang menggembirakan.
Untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani, pemerintah menggulirkan kebijakan dan program pembangunan pertanian. Dalam bentuk kebijakan, antara lain berupa penetapan harga pokok pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah/beras, penetapan harga eceran (HET) pupuk bersubsidi, serta kebijakan pembatasan importasi dan stabilisasi harga.
Berbagai program pembangunan juga telah, sedang dan terus digulirkan untuk membina, melindungi dan memberdayakan petani. Antara lain pemberian bantuan langsung pupuk dan benih unggul, bantuan pembiayaan melalui skema Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), bantuan LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat), KUPS (Kredit Usaha Pembibitan Sapi), KUR (Kredit Usaha Rakyat), penggantian sarana produksi dan biaya pengolahan sawah untuk yang terkena puso (gagal panen), bantuan alat dan mesin pertanian (pompa, hand tractor, terpal), perbaikan sarana jalan dan irigasi tingkat desa, serta beberapa program pemberdayaan petani.

Minggu, 23 Januari 2011

PELUANG AGRIBISNIS DI PERDESAAN TAHUN 2011

Kementerian Pertanian menawarkan cara baru untuk menarik investor dan petani agar mau terlibat dalam pengembangan industri agribisnis di perdesaan. Sebuah harapan di tahun 2011?
 Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Dirjen P2HP) Prof. Zaenal Bachruddin mengatakan cara baru yang ditawarkan Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut adalah sistem two in one, yakni insentif regulasi dan insentif teknologi dengan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Zaenal menyebut cara baru menarik investasi industri agribisnis di pedesaan pola two in one ini sebagai harapan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing pertanian Indonesia di tahun 2011.
Yang ia maksud sebagai dua insentif dalam pola ini, pertama adalah insentif teknologi dan kedua insentif modal kerja. Kedua insentif ini dipaketkan jadi satu. Hanya yang menjadi tugas Kementan adalah mengadakan insentif teknologinya. "Yang akan kita angkat adalah insentif teknologinya, termasuk pendampingan dari perguruan tinggi, pembiayaannya diambil dari dana kita (APBN-red) untuk pengadaan alat dan mesinnya," tutur Zaenal Bachruddin.
Sementara itu, untuk modal kerja industri agribisnis di pedesaan Zaenal menginginkan bisa diperoleh dari lembaga-lembaga yang bcrkewenangan meminjamkan dana, baik kredit program yang dibuat Kementan seperti Kredit Ketahanan Pangan dan Encrgi (KKP-E) maupun Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS), maupun pinjaman modal dari
lembaga penjamin dana bergulir di Kementerian Koperasi. "Ini harapan di tahun 2011," tutur Dirjen P2HP kepada Sinar Tani.
Untuk insentif teknologi itu di Ditjen P2HP telah disediakan dana APBN 2011. "Sudah ada yang merespon, ada Rp 80 milyar yang sudah kita salurkan," tambahnya.
Petani yang bisa mendapatkan dana ini adalah petani yang sudah memiliki kelembagaan dan berbadan hukum, bisa gabungan kelompok tani (gapoktan) atau koperasi. Harapannya, insentif teknologi yang diterima gapoktan atau koperasi bisa menjadi saham untuk bermitra dengan investor. "Bersama investor sebagai avalis (penjamin), gapoktan itu kami harapkan bisa mendapatkan pinjaman modal dari lembaga pembiyaan," jelasya.
Melalui sistem two in one ini di tahun 2011, Ditjen P2HP akan banyak mengutuhkan pengembangan Unit Pengolahan Hasil (UPH) bidang petcrnakan, tanaman pangan, perkebunan dan lainnya
Pasar Agribisnis Modern
Bekcrjasama dengan J1CA, Ditjen P2HP tengah menyusun studi kelayakan untuk pengembangan Terminal Agribisnis dan Sub Terminal Agribisnis (STA). Yang sudah siap untuk dilakukan studi kelayakannya lanjut Zaenal Bachrudin adalah TerminalAgribisnis di Lampung. Pengembangan STA ini dilakukan agar ada nilai tambah buat petani meskipun dia menjual produk segar. "Yang ideal adalah kalau STA ini sudah berjalan sebagai tempat transaksi para petani," tambahnya. Yang akan dikembangkan antara lain adalah sistem transaksinya yang berkeadilan, saat ini masih yang sangat tradisional. Misalnya dengan hanya melempar benda. "Ini kan tidak memberikan transaksi yang mcmang didasarkan pada harga dan mutu," tambahnya.
STA di Lampung menjadi prioritas karena Lampung sangat strategis menjadi penghubung Sumetara dan Jawa. Selain itu, ada tiga STA yang akan juga dikembangkan yakni STA di Simalungun Sumut, di Malang Jawa Timur dan Malino Sulsel. "STA-STA itu kita kaji untuk kembangkan lebih baik," tuturnya.
Soal produk yang ada di STA, lanjut Zaenal saat ini sudah ada kerjasama dengan Singapura, sehingga produknya bisa diekspor ke Singapura. "Tidak menu tup kemungkinan produk segar ini bisa kita ekspor ke negara yang tertarik pada buah tropik. Jepang sangat berharap sekali bisa menikmati mangga kita," tuturnya lagi.

sumber : dispertajabar

TERPOPULER

SITUS RESMI FK-THL KARAWANG

BLOG TAUTAN